Cara main crypto tidak melulu seputar tips dan trik meraih keuntungan investasi. Kita juga harus mengetahui semua bentuk resiko crypto, seperti bubble crypto. Apa itu?

Crypto bubble disebut-sebut sebagai bentuk resiko yang paling sering mengancam nilai investasi cryptocurrency. Penurunan nilai aset yang mendadak dan drastis disinyalir disebabkan oleh crypto bubble.

Apa itu crypto bubble dan adakah cara untuk menghindarinya? Yuk langsung kita cari tahu jawaban lengkapnya pada artikel belajar crypto di bawah ini!

Cara Main Crypto : Arti Bubble Crypto

Sama seperti aset investasi lain, cryptocurrency juga tak lepas dari bayang-bayang resikonya tersendiri. Namun resiko crypto sudah pasti berbeda daripada jenis resiko aset investasi lain.

Ada cukup banyak resiko crypto yang wajib dikenal oleh investor. Salah satunya adalah bubble crypto. Ancaman investasi ini sering sekali terjadi, susah diprediksi, dan lumayan merugikan.

Bubble crypto (ada juga yang menyebutnya sebagai ‘cryptocurrency bubble’) merupakan fenomena perubahan harga aset kripto secara mendadak. Mula-mula, nilai aset kripto akan melonjak super tinggi dalam periode tertentu.

Namun sejurus kemudian, nilai tersebut akan turun drastis sama cepat dan mendadaknya. Alhasil investor akan mengalami kerugian yang signifikan berkali-kali lipat.

Karakteristik resiko yang serba mendadak ini menjadikan orang-orang menganalogikannya sebagai gelembung (bubble). Semua orang tahu bahwa gelembung bisa membesar dengan cepat lalu meledak sewaktu-waktu alias rapuh. ‘Ledakan gelembung’ inilah yang dipandang serupa dengan resiko penurunan aset kripto pasca kenaikan harganya.

Kapan Bubble Crypto Terjadi?

bubble-crypto.

Sayangnya, tidak banyak orang bisa menebak kapan crypto bubble akan terjadi. Dari segala bentuk resiko investasi cryptocurrency, bubble adalah permasalahan yang susah diterka kedatangannya.

Akan tetapi ada sebuah kecenderungan yang sering berujung mengakibatkan fenomena bubble, yakni fenomena FOMO (Fear Of Missing Out). FOMO adalah momen di mana masyarakat atau investor pemula ‘ikut-ikutan’ membeli dan menjual aset kripto mereka.

Ketika sebuah aset kripto naik daun di pasaran, biasanya akan selalu ada kelompok yang ‘takut ketinggalan trend’. Alhasil mereka akan beramai-ramai memboyong aset tersebut dan harganya pun akan terus meningkat. Bisa saja nilai aset akan melampaui nilai intrinsiknya sendiri (proses bubbling).

Namun balon gelembung kenaikan harga aset bisa menurun drastis ketika situasi pasar bergejolak, dan kelompok investor ‘ikut-ikutan’ tadi memilih menjual asetnya. Ada banyak alasan mengapa mereka mau menjual aset begitu saja, seperti ikut-ikutan investor lain atau panik melihat nilai aset tiba-tiba turun.

Jadi, walaupun resiko bubble agak sulit diprediksi kapan terjadi, Anda bisa mewaspadainya dengan memerhatikan kondisi pasar crypto terbaru. Berhati-hatilah ketika nilai aset tiba-tiba menguat secara berlebihan, bisa saja itu merupakan tanda-tanda terjadinya bubbling.

3 Penyebab Bubble Crypto

Selain fenomena FOMO, ada beberapa penyebab lain yang bisa memicu crypto bubble seperti:

1. Penjualan Aset dengan Harga Ekstrem

Crypto bubble bisa disebabkan oleh kelakuan investor yang menjual asetnya dengan harga ekstrem, alias super tinggi. Tindakan tersebut umumnya dilakukan untuk meraup keuntungan investasi semaksimal mungkin sekaligus dalam waktu singkat.

Namun di sisi lain, penjualan aset dengan harga jauh di atas seharusnya justru bisa menghancurkan nilai keseluruhan crypto di pasaran.

Artikel Terkait  Stop Loss Adalah : Definisi, Keuntungan dan Strateginya

2. Pengaruh Influencer/Selebriti

Salah satu sumber kekuatan nilai kripto adalah dukungan influencer atau selebriti. Ketika sebuah aset di-endorse oleh selebriti ternama, maka sudah pasti masyarakat akan turut tertarik untuk membeli aset tersebut.

Contohnya seperti dukungan Elon Musk, musisi sekaligus CEO Tesla, terhadap Dogecoin. Dukungan getol Elon pada DOGE sukses menjadikan nama koin Shiba Inu tersebut kian meroket di masyarakat dunia.

Tak berhenti sampai di sana, cuitan-cuitan tweet Elon Musk juga sempat menyebabkan bubble pada aset Bitcoin. Melalui sosial media Twitter pribadinya, Elon Musk terang-terangan mengaku telah membeli BTC sebanyak 1,5 miliar sekaligus membuka jalur transaksi mobil Tesla dengan Bitcoin. Akibatnya, masyarakat berbondong-bondong menginvestasikan Bitcoin.

Namun sayangnya, tak sampai 3 bulan setelah cuitan tersebut dirilis, Elon Musk kembali mengumumkan bahwa perusahaan Tesla tidak lagi menggunakan metode pembayaran Bitcoin. Ini karena proses pembuatan dan penambangan Bitcoin memberi dampak buruk bagi lingkungan. Perusahaan Tesla pun akhirnya mulai melirik pemakaian Dogecoin sebagai alternatif.

Gara-gara ‘perubahan haluan’ inilah Bitcoin mengalami fenomena letusan bubble. Orang-orang yang tadinya menginvestasikan Bitcoin akhirnya memilih berhenti, mengakibatkan harganya anjlok drastis.

3. Negara Tidak Mendukung Cryptocurrency

Walaupun sudah terkenal mendunia, faktanya tidak semua negara mendukung kehadiran cryptocurrency. Baru-baru ini MUI Indonesia mengeluarkan fatwa haram untuk Bitcoin. Negara lain yang diketahui juga menolak crypto adalah Cina, Nigeria, Bolivia, Aljazair dan Ekuador.

Tidak adanya dukungan negara terhadap peredaran crypto juga bisa memicu bubble. Interupsi negara menyebabkan sistem crypto tidak bisa berjalan dengan baik dan kacau-balau.

Negara-negara ini melarang semua jenis bursa exchange menawarkan layanan trading crypto karena takut uang virtual tersebut akan merusak nilai uang fiat yang telah beredar saat itu.Otomatis, nilai aset kripto akan anjlok.

Bubble Crypto yang Terjadi Pada 2021

Crypto bubble pernah terjadi pada tahun 2018 lalu dan terulang di tahun ini. Beberapa aset kripto (Bitcoin, Cardano dan Ethereum) diketahui berada pada titik ambang bubble pada Mei 2021. Bahkan penemu Ethereum sendiri, Vitalik Buterin, mengaku bahwa bubble aset ETH bisa pecah kapan saja.

Sedangkan berita-berita crypto lain mengabarkan kekhawatiran senada pada Bitcoin. Per akhir Mei 2021 lalu, harga BTC merosot 48% (499 juta rupiah) setelah berada pada puncak tertinggi di bulan April 2021 (926 juta rupiah).

Penurunan harga Bitcoin turut memengaruhi nilai aset crypto lain seperti Ethereum, Cardano, Dogecoin dan Binance Coin:

  • Nilai ETH turun 38,48% pada akhir Mei 2021.
  • Nilai Cardano minus 35,83%.
  • Nilai Dogecoin anjlok 34,71%.
  • Nilai Binance Coin merosot 52,77%.
  • Nilai XRP turun 44,68% pada akhir Mei.
  • Internet Computer turun 32,34% dan DOT (Polkadot) juga mengalami minus sebesar 55,21%.

Penurunan harga aset crypto secara bersamaan tersebut sukses menjadikan komunitas crypto carut-marut. Banyak investor terpaksa menelan kerugian besar akibat hancurnya harga aset secara bersamaan dan mendadak. Padahal sebelumnya nilai aset meroket gila-gilaan dan menjanjikan keuntungan besar.

Tips Cara Main Crypto yang Aman

Tidak seorangpun ingin menjadi korban resiko investasi crypto. Untuk  itu, sangat penting bagi Anda selalu mengikuti cara main crypto yang aman. Dengan belajar crypto dari dasar dengan tepat, kita bisa menghindarkan diri dari berbagai resiko termasuk bubble.

Beberapa tips cara main crypto yang aman adalah:

Jangan Ikut-Ikutan (FOMO)

Banyak orang terjebak bubble karena mereka termakan FOMO, alias ketakutan tidak mengikuti trend investasi saat itu. Padahal trend investasi selalu berubah setiap hari.

Daripada asal beli aset, lebih baik tetapkan tujuan investasi yang jelas dan lakukan pembelian aset secara teratur (seperti jadwal nabung rutin). Melalui cara main crypto ini Anda akan terhindar dari kebiasaan FOMO dan menjadi korban bubble.

Artikel Terkait  Pedoman Lengkap Belajar Blockchain Terbaru untuk Pemula | Definisi dan Cara Kerjanya

Lakukan Analisa Pasar Secara Rutin

Setiap investor profesional pasti selalu menganalisa kondisi pasar secara rutin. Analisis ini penting supaya kita tahu kapan waktu terbaik untuk membeli atau menjual aset.

Lewat analisis jugalah kita bisa tahu jika mulai ada tanda-tanda penggelembungan nilai aset bermunculan. Jadi kita bisa lebih waspada mengontrol diri agar tak terjerumus resiko crypto bubble. Mulailah mempelajari berbagai mekanisme analisis pasar crypto untuk mempermudah kinerja Anda, ya!

Pelajari Karakteristik Aset

Kesalahan banyak orang saat berinvestasi crypto adalah mereka asal terjun membeli aset tanpa mempelajari karakteristik aset tersebut lebih dulu.

Jadi ketika ada aset lain yang lebih terkenal, orang tersebut pasti akan dengan mudah mengganti aset. Padahal tidak ada jaminan jika aset yang terkenal saat ini bisa lebih menguntungkan untuk jangka panjang.

Faktanya setiap aset kripto memiliki ciri, nilai dan karakteristiknya tersendiri. Akan lebih baik jika Anda benar-benar memahami seperti apa seluk-beluk aset pilihan sebelum benar-benar membelinya. Strategi ini akan membantu investasi berjalan lebih lancar dan menguntungkan.

Itulah dia pembahasan resiko crypto “Bubble Crypto”. Semoga tips cara main crypto di atas bermanfaat membantu Anda jadi lebih bijak dan strategis mengatasi resiko crypto, ya!

Artikel ini hanyalah salah satu referensi belajar crypto untuk pemula. Nah, masih ada banyak sekali tips dan trik belajar crypto lainnya yang bisa Anda peroleh gratis dari CRYPTO MARKEY! Yuk follow websitenya di http://crypto.markey.id/ dan dapatkan ratusan artikel info crypto baru gratis setiap hari.

Sampai bertemu lagi di pembahasan selanjutnya!