Konflik Ukraina dan Rusia menyebabkan keadaan darurat antara kedua belah pihak. Invansi Rusia ke Ukraina menyebabkan kerusakan infrastruktur, menciptakan setengah juta pengungsi dan kesulitan ekonomi di negara yang dipimpin oleh Volodymyr Zelensky ini. Meski demikian, Rusia sebagai negara penyerang juga mengalami kesulitan yang berpotensi meruntuhkan perekonomiannya akibat sanksi internasional yang diberikan oleh Uni Eropa.

1. Pembekuan Bank Rusia dari SWIFT

Konflik Ukraina dan Rusia mengakibatkan Rusia menerima sanksi dari Uni Eropa.(UE). Salah satu sanksi yang dianggap sangat berpotensi terhadap perekonomian Rusia adalah pembekuan sejumlah bank Rusia dari sistem Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).

Tindakan ini membuat layanan perbankan Rusia terganggu secara signifikan sehingga mempersulit bisnis dan sangat berdampak bagi pelaku usaha. Tidak hanya pelaku usaha, tetapi warga Rusia diberbagai belahan dunia pun terkena dampaknya. Sebagai informasi, SWIFT adalah sistem pembayaran yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan yang beroperasi di seluruh dunia termasuk bank, untuk bisa mengirim atau menerima data transaksi dengan cepat dan aman.

Terdapat 7 bank yang dianggap memiliki hubungan dengan Vladimir Putin dan dianggap terlibat dalam membiayai perang Rusia, yakni VTB Bank, Bank Otkritie, Novikombank, Promsvyazbank, Rossiya Bank dan Sovcombank, serta VEB, dan bank pembangunan Rusia. Larangan tersebut mengecualikan dua lembaga keuangan terbesar di negara itu, Sberbank dan Gazprombank.

Keduanya dibebaskan karena lembaga keuangan tersebut menangani sebagian besar pembayaran yang terkait dengan ekspor gas dan minyak, di mana UE sangat bergantung untuk menghasilkan energi. Ini menunjukkan meskipun persatuan UE secara konsisten kuat selama krisis, persatuan itu masih menemui batas ketika dihadapkan dengan pertanyaan penting tentang pasokan energi.

Meski adanya pembekuan SWIFT, Rusia telah membentuk sistem pembayaran alternatif lain dengan China yang dapat digunakan oleh negara yang tengah sibuk menggempur Ukraina ini. Namun, platform ini masih sedikit digunakan karena transaksi belum sebesar SWIFT. Sebagai gantinya, para pelaku usaha dari Rusia beralih ke dompet digital seperti Crypto.

2. Penggunaan Crypto currency di Ukraina

Ukraina telah menerima jutaan dollar crypto untuk mendukung tentaranya bertahan ditengah gempuran Rusia. Bahkan pemerintah Ukraina juga meminta sumbangan dalam bentuk crypto dan telah mengumpulkan lebih dari $50 juta. Saat konflik terus berlanjut, pendukung Ukraina mengirim lebih banyak crypto ke negara tersebut.

Melalui media sosial dan platform seperti Telegram, para pemimpin sektor crypto yang sedang berkembang di negara itu membagikan alamat dompet crypto miliknya dan meminta sumbangan. Satu LSM yang mendukung militer Ukraina bahkan dilaporkan telah mengumpulkan beberapa juta dalam cryptocurrency, dan menggunakan crypto untuk membeli koleksi peralatan militer, persediaan medis, dan bahkan aplikasi pengenalan wajah. Beberapa dari upaya penggalangan dana ini telah aktif selama berbulan-bulan, tetapi mulai meningkat minggu lalu.

Sejalan dengan pemerintah Ukraina, warganya pun juga cukup mengandalkan crypto currency sebagai alternatif karena lembaga keuangan Ukraina membatasi akses ke rekening bank & mata uang asing serta ada ketakutan akan pengawasan sehingga system keuangan yang dinilai paling cocok digunakan saat ini adalah crypto, dimana sang pengguna dapat menggunakannya secara anonym dan tidak ada pihak ketiga yang bisa terlibat.

Meski demikian, menggunakan crypto di tengah krisis tidak selalu mulus. Mungkin agak sulit mengakses internet dan perangkat yang berfungsi ditengah konflik Ukraina dan Rusia. Dilain sisi, bagi pengguna yang belum terbiasa dengan Crypto harus mengetahui cara menggunakan, sehingga tidak bisa beralih dengan cepat dan penggunaaan crypto mungkin agak sedikit lebih menyulitkan dari pada mata uang fiat. Dapat disimpulkan bahwa, crypto mungkin paling membantu bagi orang-orang yang sudah memiliki atau menggunakan sebelumnya.

Artikel Terkait  Ciptakan Ekosistem Digital, IDM Coop Luncurkan Token Crypto Asli Indonesia

3. Peralihan Rusia ke dompet digital Crypto

Beberapa pelaku usaha maupun warga biasa Rusia kini beralih ke dompet digital crypto, sehingga menimbulkan kenaikan volume harian sebesar 259% untuk perdagangan bitcoin dalam mata uang Rubel.

Meski terlihat ada peningkatan pada pembelian Bitcoin di bursa utama Rusia, tetapi jika diamati lebih rinci volume perdagangan crypto yang didominasi rubel ini tidak menujukan peningkatan yang begitu drastis. Bahkan volume perdagangannya relative lebih kecil dari Ukraina.

Hal ini rupanya telah ditebak oleh pemerintah Ukraina, sehingga untuk menyisiasati penghindaran sanksi oleh Rusia, Mykhailo Fedorov selaku wakil perdana menteri Ukraina dan menteri transformasi digital, meminta platform crypto dan blockchain untuk memblokir alamat pengguna Rusia.

Administrasi Biden juga mempertimbangkan bagaimana sanksi terhadap aset cryptocurrency Rusia dan telah mendesak pertukaran crypto untuk memastikan bahwa individu dan organisasi tertentu yang dikenai sanksi dari Rusia tidak menggunakan platform tersebut.

Kendati demikian, memutus akses Rusia ke crypto berdampak nyata bagi negara itu, sebab crypto adalah mata uang digital yang cukup populer di Rusia. Selain itu, negara ini juga menduduki posisi ketiga dalam penambangan bitcoin dunia.

Selain itu, sulit untuk melacak maupun mengonfirmasi identitas pelanggan mereka sehingga banyak platform yang menolak untuk membekukan akun yang berkaitan dengan Rusia dan yang lain berpendapat bahwa kripto bukanlah pilihan yang realistis bagi orang yang ingin menghindari sanksi.

Meski ada penolakan untuk memutus atau memblokir crypto di Rusia, salah satu platform perdagangan crypto currency yakni Coinbase telah lebih dulu mengambil langkah serius dengan memblokir sekitar 25.000 alamat dompet digital yang terkait yang diyakini terlibat dalam aktivitas terlarang untuk menghindari sanksi.

Selain itu, sama halnya dengan Ukraina yang mendapatkan sumbangan lewat crypto, Crypto juga dapat digunakan untuk penggalangan dana perang bagi kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina, termasuk pada tahun 2014, ketika Rusia menginvasi dan menguasai Semenanjung Krimea.

Rusia lumayan memiliki ikatan yang kuat dengan kejahatan dunia maya terkait crypto dan aktivitas ilegal seperti pencucian uang dan ransomware. Menurut satu analisis dari Chainalysis, tiga perempat dari uang yang dihasilkan melalui serangan ransomware tahun lalu diberikan kepada peretas yang terkait dengan Rusia.

Pada bulan Januari, pemerintah Ukraina menjadi sasaran serangkaian serangan siber yang menyamar sebagai ransomware yang menuntut bitcoin, sebelum menghancurkan data di komputer pemerintah.

Coppi, dari Dewan Pengungsi Norwegia, memperingatkan bahwa orang yang menaruh uang mereka di crypto dapat menjadi korban yang tidak curiga dalam perang dunia maya dan tidak hanya dalam konflik Rusia-Ukraina. Meskipun demikian, bukan berarti mata uang lain tidak dapat digunakan untuk kegiatan yang tidak baik.

Artikel Terkait  Jual Aset Digital Dogecoin mu sekarang, intip 3 Alasan nya!

Kesimpulan

Konflik Ukraina dan Rusia menjadi contoh nyata dalam ekonomi global bahwa Cryptocurrency dapat digunakan sebagai alat transaksi ditengah krisis dan keterbatasan orang-orang dalam menjangkau lembaga keuangan tradisional. Dalam konflik ini, Crypto bak menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, membantu bagi yang kesulitan bertransaksi ditengah konflik, namun di sisi lain dapat dieksploitasi untuk memfasilitasi perang dan kejahatan internasional lainnya. Namun, baik atau buruk di masa perang/ konflik, crypto melakukan apa yang dikatakan para pendukungnya dengan memberi orang-orang akses ke hal-hal yang dibatasi.

Ayo terus update wawasan Anda seputar dunia crypto bersama CRYPTO MARKEY. Cukup klik https://crypto.markey.id/ sekarang dan langsung dapatkan ratusan info dan berita crypto terkini. Sampai bertemu lagi!