Dampak dari adanya pelarangan aktivitas penambangan Bitcoin di negeri tirai bambu beberapa waktu lalu telah mengakibatkan banyak penambang berpindah ke Kazakhstan. Hal tersebut berhasil mengantarkan Kazakhstan sebagai negara penambang bitcoin terbesar kedua di dunia dengan konsumsi listrik yang semakin tinggi.

Cambridge Center of Alternative Finance menyatakan ukuran daya komputasi yang digunakan untuk menambang Bitcoin di Kazakhstan saat ini adalah sebesar 18% dari hashrate global.

Kazakhstan Negara Ramah bagi Penambang

konsumsi-listrik.

Alasan lain mengapa penambang Bitcoin ramai beraktivitas di Kazakhstan adalah karena negara ini menawarkan hal-hal yang mampu menarik perhatian penambang, seperti adanya regulasi yang mudah dan jelas serta bank yang mulai menawarkan akun cryptocurrency.

Tahun 2020 lalu parlemen telah mengesahkan undang-undang yang melegalkan pertambangan, sehingga mampu menciptakan kondisi ramah industri. Aset digital diperkenalkan melalui RUU tersebut dengan cryptocurrency dijadikan dasar untuk mendirikan toko.

Artikel Terkait  Funtonia Group Luncurkan Dua Dana Bitcoin Bagi Investor

Tarif pajak juga diatur di dalamnya, dengan menetapkan pajak kepada penambang dan menaikkan tarif listrik baru. Maka tak heran jika Kazakhstan mampu melaju lebih cepat dibandingkan dengan negara lain yang mengutamakan penambangan Bitcoin.

Di balik kemajuan cryptocurrency di sana, baru-baru ini Kementerian Energi Kazakhstan berencana untuk membatasi konsumsi listrik bagi industri kripto secara nasional. Menurut rancangan tertanggal 1 Oktober, Menteri Energi Magzum Maratuly Myrzagaliev menyatakan bahwa seluruh pembangkit yang baru disahkan akan dibatasi pemakaian listriknya hanya sampai 1 MW selama kurun waktu dua tahun.

Rancangan tersebut tidak merinci kapan aturan tersebut berakhir dan akan aktif 60 hari setelah diterbitkan. Mendengar aturan tersebut para penambang bersuara dengan memberikan kritik terhadap aturan tersebut.

Jumlah 1 MW sebetulnya jauh di bawah jumlah rata-rata konsumsi listrik yang digunakan oleh tambang industri. Jumlah tersebut sebaliknya terlalu banyak jika dihitung dalam konteks penggunaan listrik di kota kecil. Kabar lainnya muncul dari BIT Mining, salah satu penambang terbesar di China mengaku berinvestasi di sebuah situs di Ohio untuk mengambil kapasitas listrik hingga 100 MW.

Artikel Terkait  Trading Menggunakan Robot Trading Crypto, Aman kah?

Kenaikan Konsumsi Listrik Jadi Masalah Baru

Beberapa insiden terjadi pada waktu lalu yang berkaitan dengan listrik di Kazakhstan. Pada Juli lalu kota terbesar di negara tersebut, Almaty telah mengalami pemadaman listrik total, kemudian pada bulan ini pembangkit juga mengalami pemadaman.

Di situasi lainnya, berdasarkan laporan dari situs berita lokal Kazakhstan Today, atas kondisi kekurangan daya yang terjadi di negara tersebut, Menteri Energi menyalahkan ledakan tambang crypto yang terjadi.

Sementara itu KEGOC, operator jaringan nasional diperintahkan untuk mengaudit setiap pembangkit listrik yang ada dengan kapasitas listrik 5 MW dalam waktu 10 hari kerja. KEGOC juga yang akan mencari cara agar penambang kripto bisa tersambung dengan pembangkit listrik.

Artikel Terkait  UFO Gaming, Game Pertama Berbasis Blockchain Ethereum

Asosiasi Industri Blockchain dan Pusat Data memperkirakan sebanyak 250.000 perangkat penambangan berada di Kazakhstan. Dengan banyaknya perangkat tersebut tentu membutuhkan daya yang besar untuk mengoperasikannya, otomatis konsumsi listrik negara tersebut juga akan naik.

Menteri Energi mengatakan pada (30/9) lalu bahwa negara mengalami kenaikan konsumsi listrik per tahunnya yakni sebesar 7%, dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan 2% tiap tahunnya.

Atas kejadian tersebut, Asosiasi Industri Blockchain dan Pusat Data menyarankan agar pemerintah mampu bertindak tegas kepada para penambang ilegal yang tidak terdaftar.

Sekian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga informasi yang kami sajikan dalam situs ini selalu bermanfaat untuk menambah wawasan Anda. Terima kasih.