Meski terjadi penurunan dalam teknologi global dan kripto, perburuan NFT di Indonesia yang baru saja berkembang terus mengalami perkembangan. Komunitas NFT Indonesia terus membuat gelombang di dunia Web3 (Red: evolusi internet yang diprediksi blockchain, seperti cryptocurrency atau Non-Fungible Tokens (NFT)).

Hingga munculah proyek-proyek seperti Karafuru, MindBlowon dan Superlative Secret Society, yang baru-baru ini menghasilkan pendanaan dengan token NFT yang sukses. Pada tahun 2025, diprediksi digitalisasi di Indonesia yang menjadi strategi pertumbuhan Indonesia akan menghasilkan sekitar $150 Miliar, sebuah angka yang sangat fantastis apabila dirupiahkan.

Dilain sisi, koreksi pasar dan kenaikan suku bunga America Serikat berbanding terbalik dengan prediksi tersebut. Meski pasar sedang lesu, usaha baru sedang menjajaki Web3 untuk pangsa ekonomi digital Indonesia yang lebih besar.

Proyek-proyek dalam Web3 dapat bergabung dengan perusahaan rintisan atau yang lebih dikenal dengan startup untuk melewati Bear market (Red: kondisi pasar saham di mana harga saham sedang mengalami tren melemah atau turun) untuk memperkuat janji sektor teknologi Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang membuat Web3 menjadi pasar yang layak? Mengapa begitu banyak proyek NFT Indonesia viral bermunculan? Peluang apa yang bisa Anda dapatkan disini? Mari kita cross check peran Web3 dalam perekonomian dan prospek perkembangan NFT Indonesia.

Adopsi Bertahap Melahirkan Banyak Manfaat

nft-indonesia-2

Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia dan negara kepulauan yang dimana infrastruktur teknologi dan informasi masih belum merata diseluruh daerah. Hal ini yang kemudian membatasi akses terhadap digitalisasi ke beberapa daerah yang belum tersentuh teknologi dan informasi.

Terlepas dari ketertinggalan tersebut, antusiasme terhadap digitalisasi di Indonesia masih sangat tinggi. Pusat-pusat kota berkembang pesat dari inovasi digital dengan pengadopsi awal memicu kemajuan saat mereka dewasa. Akibatnya, pasar yang lebih besar menikmati ekosistem produk yang dikembangkan, sementara akses secara bertahap berkembang seiring dengan berkembangnya infrastruktur internet seluler di Indonesia.

Pola adopsi inilah yang kemudian menghasilkan 2.300 startup teknologi, dengan 12 unicorn (Red: istilah untuk perusahaan rintisan dengan nilai kapitalisasi lebih dari $1 miliar). Antusiasme yang menular ini telah menyebar ke batas Web3 karena semakin banyak pengguna internet Indonesia yang mencari layanan terdesentralisasi.

Adopsi bertahap juga telah memudahkan pengenalan teknologi kepada pengguna yang kurang canggih. Prevalensi produk pasar yang luas seperti game pada smartphone dan belanja online telah menarik perhatian yang disambut baik ke Web3, yang semakin mendemokratisasi peluang blockchain.

Kreator Ekonomi

Masih ingat dengan Gozali? Pria berusia 22 tahun ini mencetak rekor pertama kali di Indonesia sekaligus membuat jejaknya di dunia NFT dengan menjual 933 foto selfie yang diambil setiap hari selama lima tahun sebagai NFT. Bukan hanya sekadar iseng, “ulahnya” ini kemudian menghasilkan volume perdagangan melebihi $1 juta di OpenSea.

Keberhasilan Gozali yang belum pernah terjadi sebelumnya mendorong apa yang sekarang disebut dengan efek Ghozali, orang-orang kemudian menggelar lapak di NFT dengan menjual NFT acak seperti foto makanan, karakter unik, bahkan yang paling mencengangkan adalah foto KTP yang dijual secara bebas di OpenSea merupakan fenomena yang cukup membuat orang-orang semakin melek dengan NFT meski hanya dipermukaan saja.

Kembali ke proyek NFT di Indonesia yang sedang berkembang pesat adalah Karafuru, NFT ini tercipta dari sebuah kolaborasi antara Museum of Toys dan seniman Indonesia Wede untuk merilis koleksi karakter pop-art animasi yang dinamis dalam proyek gambar profil yang sepenuhnya berlangganan dan diperdagangkan secara aktif.

Seiring berjalannya waktu, kreator ekonomi lain mulai berusaha untuk meniru kesuksesan Karafuru dan menjanjikan cara-cara kreatif untuk menyebarkan hasil mereka sambil menumbuhkan nilai kekayaan intelektual mereka. Dengan penjualan NFT yang berpotensi menyaingi pendanaan, proyek NFT dapat digunakan untuk mendanai inisiatif komersial dan nirlaba. Model pendanaan baru ini dapat mempercepat potensi kewirausahaan Indonesia.

Berburu Emas alias berburu NFT

Seperti kata pepatah “Saat banyak orang berburu emas, jualah sekop,” Menjual alat untuk aktivitas berisiko tinggi yang populer adalah cara berisiko rendah untuk memonetisasi tren. Banyak solusi telah berevolusi untuk memudahkan proses pengembangan blockchain seiring dengan meningkatnya prevalensi Web3.

Sudah ada beberapa marketplace NFT di Tanah Air, antara lain TokoMall, Paras, dan Kolaktibel. Platform-platform ini secara menonjol menampilkan karya para pendiri dan pencipta Indonesia, melayani tuntutan pasar lokal yang berkembang.

Banyak konten krator dibidang ini seperti Raymond Chin dan Kelas Kripto Cepod yang sudah memberikan pengetahuan secara luas mengenai blockchain. Mulai dari dasar-dasar blockchain, konsep kripto, bahaya keuangan terdesentralisasi, dll. Seiring berjalannya waktu, komunitas NFT Indonesia telah tumbuh di platform media sosial seperti Reels Instagram hingga TikTok.

Artikel Terkait  China Kembangkan Sayap Melalui Proyek Blockchain Mandiri

Bagaimana Cara Memanfaatkan Peluang Ini?

Keadaan unik di Indonesia memfasilitasi adopsi Web3 yang stabil. Semakin banyak populasi digital Indonesia yang berpartisipasi dalam membangun Web3 sebagai pendiri, pelindung, pendukung, dan pengembang proyek. Dukungan pemerintah menambahkan bisnis di blockchain ke strategi digitalisasi ekstensif negara itu. Prospek Indonesia cerah, dan sudah siap.

Saat menilai peluang pasar Web3 Indonesia, berikut adalah beberapa hal penting yang perlu Anda ingat:

  1. Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia. Populasi beragam lebih dari 270 juta orang menjadikannya tempat yang ideal untuk bereksperimen dengan produk dan layanan terbaru.
  2. Miliaran dolar investasi dialirkan ke startup Indonesia pada tahun 2020 dan 2021. Infrastruktur dan komunitas negara pada akhirnya akan matang, sementara investasi Web3 kemungkinan akan terus meningkat.
  3. Indonesia baru-baru ini mengumumkan visa nomad digital yang akan memungkinkan pekerja jarak jauh untuk tinggal di pulau-pulau seperti Bali dan bebas pajak. Indonesia sudah menjadi lokasi berbiaya rendah untuk membangun startup dan sekarang persyaratan visa ini akan membuatnya lebih mudah diakses.
  4. Indonesia memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet. Akses mudah ke perangkat juga berarti hampir 190 juta di antaranya mengakses internet melalui ponsel. Ini adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan ketika membangun komunitas NFT Indonesia dan kampanye pemasaran melalui aplikasi seluler dan platform teknologi.

Kesimpulan

Meluncurkan proyek Web3 bukanlah hal yang mudah. Membangun proyek yang sukses di bear market masih terbilang sulit. Namun, Indonesia adalah tempat berkembang yang menarik bagi para wirausahawan untuk memasuki salah satu negara dengan ekonomi berkembang terbesar di dunia dengan dasar yang kuat dari pengadopsi Web3 awal.

Peluang untuk menciptakan merek ada di sini sekarang. Pengembalian besar datang dengan risiko besar. Kembali lagi kepepatah yang saya sampaikan diatas, Apakah Anda akan menjual sekop atau menggali emas?

Tertarik dengan Crypto? ingin mencari tahu perkembangannya? Temukan lebih banyak artikel menarik lainnya di https://crypto.markey.id/ . Sampai bertemu lagi!